Selasa, 04 April 2017

Laporan Pembelajaran Museum Sangiran



Laporan Pembelajaran Museum Sangiran 

Hasil gambar untuk foto sangiran    
 
Hari, Tanggal Pelaksanaan      :  Kamis, 02 Maret 2017
Tempat Pelaksanaan                :  Museum Sangiran
Siswa yang melaksanakan       :  Siswa kelas x sman 2 magelang
Tujuan Kegiatan                      :  Untuk mengetahui asal usul nenek moyang Indonesia
Hasil Pelaksanaan,
A.    Profil Museum Sangiran
Balai pelestarian situs manusia purba sangiran adalah unit pelaksana teknis di lingkungan kementrian pendidikan dan kebudayaan yang mempunyai tugas melaksanakan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan situs manusia purba.
 Sangiran terletak di Kabupaten Sragen (meliputi 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Kecamatan Gondangrejo) dan kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.Sangiran terletak di desa Krikilan, Kec. Kalijambe ( + 40 km dari Sragen atau + 17 km dari Solo) situs ini menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( + 2 juta tahun lalu).
               Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan namun karena jumlahnya yang banyak maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Saragen di atas tanah seluas 1000 m². Museum tersebut diberi nama “Museum Pestosen”. Sementara itu pada tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Godangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum tersebut diberi nama “Museum Dayu”. Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas 16.675 m². Selanjutnya koleksi yang ada di Museum  Plestosen Krikilan dan Koleksi di Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini. Hingga saat ini museum sangiran mengalami banyak kemajuan dan pengembangan bangunannya.



B.     Hasil pembelajaran
Museum Sangiran memiliki 3 ruang pameran dan setiap ruang menampilkan hal yang berbeda. Ruang pamer 1 bertema kekayaan Sangiran dan berbagai fosil yang ditemukan di daerah Sangiran dan menampilkan proses evolusi manusia purba. Ruang pamer 2 bertema langkah-langkah kemanusiaan dan berisi diorama manusia purba serta profil para peneliti. Ruang pamer 3 bertema tentang Homo Erectus dan berisi replika kehidupan species Homo erectus.
ü  Koleksi Museum Sangiran
1.       Fosil manusia
Australopithecus africanus , Pithecanthropus mojokertensis (Pithecantropus robustus ), Meganthropus palaeojavanicus , Pithecanthropus erectus, Homo soloensis , Homo neanderthal Eropa, Homo neanderthal Asia, dan Homo sapiens .
 
Hasil gambar untuk foto manusia purba di sangiranGambar terkait
2.       Fosil binatang bertulang belakang
Elephas namadicus (gajah), Stegodon trigonocephalus (gajah), Mastodon sp (gajah), Bubalus palaeokarabau (kerbau), Felis palaeojavanica (harimau), Sus sp (babi), Rhinocerus sondaicus (badak), Bovidae (sapi, banteng), dan Cervus sp (rusa dan domba).
3.       Fosil binatang air
Crocodillus sp (buaya), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, Hippopotamus sp (kuda nil), Mollusca (kelas Pelecypoda dan Gastropoda ), Chelonia sp (kura-kura), dan foraminifera
4.       Batu-batuan
Meteorit/Taktit, Kalesdon, Diatome, Agate, Ametis.
5.       Alat-alat bantu manusia purba yang berupa  batu
serpih dan bilah, serut dan gurdi, kapak persegi, bola batu dan kapak perimbas-penetak.

·         Koleksi lainnya yang ada di Museum Sangiran
a)      Fosil kayu yang terdiri dari:
1. Fosil kayu                                                                                                           
    2.  Fosil batang pohon
b)      Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus
c)      Tulang paha
d)     Tengkorak kerbau
e)      Gigi Elephas Namadicus
f)       Fragmen gajah purba
g)      Tulang rusuk (Casta) Stegodon Trigonocephalus
h)      Ruas tulang belakang (Vertebrae)
i)        Tulang jari (Phalanx)
j)        Rahang atas Elephas Namadicus
k)      Tulang kaki depan bagian atas (Humerus)
l)        Tulang kering
m)    Fosil Molusca
a.       Klas Pelecypoda
b.      Klas Gastropoda
n)      Binatang air (Tengkorak buaya (Crocodilus Sp.), Kura – kura (Chlonia Sp.), Ruas tulang belakang ikan)


                
               



2 komentar:

  1. Terima kasih. Sebaiknya penataan foto pendukung tidak terpisah dengan bagian yang dilaporkan, tetapi langsung berdekatan. Misalnya, pada koleksi manusia bla bla bla, langsung di sampingnya diikuti foto sebagai bukti penguat.

    BalasHapus